14 Sept 2017 2641

Terkadang saya suka mikir bahwa menikah adalah opsi yang tidak akan pernah saya pilih karena hal tersebut akan menjadi batas dalam pengambilan berbagai keputusan dalam hidup. You know all that personal list-things to do-before you die-kinda stuff. Nafsu personal yang terus digenjot setelah mendapatkan penghasilan dari bekerja. Hingga akhirnya waktu berbicara dan keinginan untuk menikah bukan karena memenuhi cek list personal, tapi sebuah kebutuhan untuk membina sebuah keluarga. Kebahagiaan kami bertambah (setelah berbagai seri long distance relationship dan marriage) dengan kehadiran Antariksa si putra semata wayang yang menjadi penyejuk hati setelah 4 hari sebelumnya ibu meninggalkan kami semua.

Setiap hari saya mengamati pertumbuhan Antariksa mulai dari tidak berdaya sama sekali hingga sekarang menjadi super aktif bicara dan berjalan. Setiap hari saya selalu mencoba untuk pulang tepat waktu agar bisa punya lebih banyak waktu bermain dengannya. Sayangnya KRL commuter line tidak pernah memenuhi janjinya. Saya selalu bahagia ketika melihat wajah Antariksa yang sangat antusias menyambut kepulangan bapaknya, menangis minta digendong, lalu kemudian minta dititah jalan. Kami  biasanya berdiskusi mengenai cicak yang tidak pernah kunjung datang lagi ke rumah hingga makan mangga bersama. Hal-hal sederhana yang membahagiakan dan tidak pernah terlintas dikepala saya dulu.

Sejujurnya keluarga adalah salah satu alasan saya bersyukur didalam hidup ini. Keluarga adalah sebuah tempat untuk pulang dimana kita disayang dengan sepenuh hati setiap hari. Untuk saya, keluarga menjadi pembatas tingkah laku sehari-hari. Keluarga juga menjadi pembatas berbagai hal yang kita lakukan dengan dasar nafsu atau keserakahan. Ibu saya pernah bilang bahwa salah satu alasan ayah saya menolak untuk “mengambil upeti” ketika menjadi kepala cabang di pelabuhan adalah karena keluarga. Ia percaya bahwa segala uang kutipan yang apabila ia ambil akan memberikan efek buruk kepada anak-istri yang ia beri makan.

Setiap pagi saya bangun lebih pagi menatap wajah dua orang tersayang. Saya selalu mencoba untuk bersemangat untuk menjalani hari. Karena kini didalam perahu ini ada ekstra dua orang yang harus saya pikirkan kehidupan dan kebahagiaanya. Banyak yang harus dipertimbangkan dan dikompromikan. Karena kini semuanya bukan selalu tentang saya.

Iklan

Satu tanggapan untuk “1 Tahun Menjadi Bapak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s