New York

Beberapa waktu yang lalu, kami mengunjungi New York. Puti mendapatkan sejenis penghargaan atas video 1 menit nya yang bercerita tentang perdamaian di acara International Grammy Award 2018. Kami semua sangat bangga kepadanya. Jadi akhirnya dengan pesawat terpisah, kami berangkat ke New York yang dingin di bulan November. We did plenty of things: mulai dari ke acara award di hotel ala New York hingga melihat Dinosaurus. Banyak hal yang bisa dilihat dan dirasa disini. Walau bukan yang paling bersih atau ramah, tapi saya merasa cukup menikmat kota ini.

20181116_174403

20181119_152344

20181120_125440

20181117_123120

Belakangan ini kami sangat menikmati perjalanan yang pelan. Tidak terburu-buru untuk mengunjungi suatu tempat hanya untuk berpose dan menaruh di sosial media. Saya sendiri cukup lelah dengan hal-hal tersebut. Teman saya Raj bilang bahwa ketika kita mengambil terlalu banyak foto, sebenarnya kita kehilangan banyak memori dari tempat yang kita kunjungi. Ada benarnya karena sense of exploring kita hilang. Yang kita cari hanya objek fisik yang mencolok saja. Kita nggak akan sempat eksplorasi hal-hal sederhana seperti warna, suara, bau, sejarah, dan berbagai hal lainnya.

Iklan

Mom, it has been 2 years.

Dear Mom,

Since you left us, Antariksa grow into a fine young man, he is 2 now. He is the one that cheered me up when I am a bit down. Antariksa always there everyday to welcome me back home, after that tiring hours in the office. He smile in front of the door, I hug. Sometimes he asked me to go for one lap of driving around the block. We chat, not sure whether he understand me or not. But he is a smart little boy.

Mom, I never understand how much you love me, but know I know after I become a parent. I always want the best for my kid, make him happy, cheer him up. I always worry when he got sick. There’s always be time when I was too tired and gone to bed first. But in the middle of the night I always awake to see my son and wife sleeping. I secretly kiss their cheeks. I feel peace.

Mom, It has been 2 years since you left us. I always hoping that you can stay with us few more years to see Antariksa. But we just never know right? Days were different now, but I hope you are happier now knowing that there are no such thing for you to worry about.

Dua tahun mengabdi.

Antariksa Singapore 770

Sejak dulu saya tertarik dengan kegiatan sukarelawan dalam bentuk apapun. Tidak ada jenis yang terlalu spesifik sih, asalkan ada sedikit kontribusi yang bisa saya berikan untuk orang lain tanpa berpikir muluk soal apa yang akan didapatkan.

Dua tahun yang lalu saya bergabung dengan YPAB sebuah yayasan non-profit yang intinya adalah kita sukarela untuk menyumbangkan waktu mengajar rekan-rekan kita yang terjebak dalam berbagai situasi sehingga nggak bisa sekolah dan akhirnya hanya bisa mendapatkan super blue collar job. Kelas yang ditawarkan adalah kejar paket A-B-C dan ada beberapa kelas motivasi lainnya. Oh ya ini semua gratis, yang dibutuhkan hanya keinginan.

Salah satu motivasi melakukan ini adalah kisah keluarga kami. Saya selalu keingetan dengan visi kakek dan nenek saya ketika memutuskan untuk menyekolahkan anak-anaknya kejenjang yang lebih tinggi. FYI, dua generasi diatas saya hidup miskin dan terhina. Namun pendidikan menyelamatkan kami dan saya termasuk yang tinggal menikmati apa yang diperjuangkan oleh kakek-nenek saya.

Dalam berbagai interview yang saya pernah saksikan sendiri memang ternyata tantangan di Indonesia untuk sekolah bagi yang tak berpunya sangatlah panjang lebar dan memusingkan, seperti mendengarkan Trump pidato. Dan yang sangat menyedihkan adalah ini semua ternyata tidak selalu soal uang untuk sekolah. Dua alasan yang cukup membuat miris adalah soal keamanan dan penipuan. Seorang calon peserta ditanya kenapa kok sekolahnya dulu nggak lanjut? Dia bilang soal kasus pemerkosaan anak perempuan di kampungnya ketika dalam perjalanan ke sekolah. Sehingga semua anak perempuan stop sekolah. Lalu ada yang masuk sekolah SMK (swasta) tapi ternyata setelah bayar, siswa tidak pernah kedatangan guru (wtf?). Ya itulah carut marut pendidikan kita.

Mengajar sendiri susah-susah gampang. Sulit sekali membagi waktunya, walau materi cukup dikuasai karena Geografi he-he-he. Saya cukup takjub sih dengan siswa-siswi saya yang sangat kritis, saya rasa anak sekolah umum akan kalah dengan pertanyaan mereka. Ketika mengajar saya selalu mengatakan apa agar mereka terus bertanya: karena tidak pernah ada pertanyaan yang bodoh, yang bodoh hanya pertanyaan yang tidak ditanyakan.

Beberapa dari siswa kami kini sudah lanjut ke universitas. Kaget deh ada yang sampai masuk UNJ. Harapan terbesar saya sederhana agar mereka bisa merubah nasib hidupnya dan naik status sosial. Kemudian nantinya mereka akan membantu mengangkat nasib keluarganya. Ain’t that simple?

Pecinan Glodok.

Dalam suatu waktu yang bebas saya mengikuti sebuah tur Pecinan di Jakarta Kota, wilayah Pintu Besar dan Kecil lalu Glodok. It was not the best one, terutama karena tur guidenya banyak salah memberi informasi. Yang menyedihkan adalah karena saya kerap membetulkan ucapannya dan itu membuat saya terlihat menyebalkan. Ha-ha.

I always love the romantic of Chinatown, seperti selalu memberikan banyak sekali budaya dalam satu wilayah kota. Ketika kita semua sudah tergerus oleh zaman dan budaya pop yang konsumtif, kembali ke chinatown seperti kembali ke masa lalu yang penuh tradisi. Ah-ya. Jakarta memiliki salah satu dari sekian banyak pecinan di Indonesia. Mungkin Glodok inilah yang paling terkenal se Indonesia Raya. Tapi kita tuh cuma tahu Glodok tak lebih dari pusat elektronik. Sangat disayangkan.

Wilayah Glodok sendiri bukanlah suatu wilayah yang terlalu klasik seperti yang pernah saya lihat di buku-buku sejarah. Kapitalisme sudah membongkar banyak rumah-rumah tuanya dan kanal yang mengalir didalamnya. Tapi setidaknya kita masih bisa melihat bagaimana komunitas saling bahu membahu menghidupkan nuansa tersebut. Mulai dari klenteng tua yang selamat dari kerusuhan 1998 hingga toko kopi kenamaan bercampur aduk membentuk sebuah cerita menarik. Saya sendiri mengunjungi klenteng Toa Se Bio dan Petak Sembilan di wilayah Glodok. Juga mengunjungi sebuah gereja katolik yang dulunya merupakan rumah seorang pembesar tionghoa. Menarik.

20180512_105807(0)

20180512_105826

20180512_111804

20180512_111437

20180512_103708

20180512_110014

Dalam postingan di instagram beberapa teman bertanya apakah semua foto-foto ini benar di Jakarta?

Jejak peradaban tionghoa yang merantau sampai ke nusantara terlalu kuat untuk bisa kita lepaskan dari cerita kita. Mereka sudah menjadi bagian dari kita terlampau lama sehingga tidak ada kata lain untuk mengatakan mereka adalah saudara kita sendiri. Lagipula “kita” juga berbagi nenek moyang dengan mereka.

Kehidupan di kota (yang lebih) kecil.

Belakangan ini saya suka menatap nanar ke atas langit ketika terjebak macet di rush hour  Jakarta di sore hari untuk menuju rumah. Saya sudah melakukan ini bertahun-tahun dan sejujurnya agak muak. Dulu sih (pas baru lulus kuliah) rasanya ingin sekali menggengam dunia dengan ambisi segede gaban. Seiring dengan waktu berjalan dan prinsip-prinsip kapitalisme mulai surut, saya kini merindukan hal-hal sederhana seperti melihat pemandangan sawah yang luas atau sekedar berkebun. Sebenernya saya melakuan hal itu sih di rumah, berkebun, menyelamatkan tanaman yang hampir mati/dibuang. Tapi selalu ada kerinduan untuk lebih sederhana. Seperti ketika saya mampir ke Banjarnegara tahun lalu. Ada beberapa alasan kenapa saya ingin tinggal di kota seperti Banjarnegara kalau pensiun nanti. Foto-foto ini semoga menjelaskan kenapa.

Mei 2017 1573

Terletak tidak jauh dari gunung dan didalamnya mengalir Sungai Banyumas yang terlihat sangat segar juga dingin.

Mei 2017 1653

Dimana kita bisa menyeberang diatas jembatan jaman Belanda yang masih tegak berdiri.

Mei 2017 1520

Alun-alunnya amazing banget, bersih, nggak perlu instagramable tapi nyaman sekali. Lalu ada pohon beringin besar ditengahnya. Alun-alun ini sangat fungsional, bukan sebagai tempat warga foto-foto tapi difungsikan anak-anak main bola atau olahraga lainnya.

Mei 2017 1548

Kids looks very happy!

Mei 2017 1602

and SWAG.

Mei 2017 1539

Masyarakat sangat ramah dan kerap bercengkrama disisi jalan sambil menikmati hangatnya matahari pagi.

Mei 2017 1501

Atau berjalan bersama sebagai keluarga menuju matahari terbit.

Agak berbeda dengan generasi ayah-ayah kita atau mereka yang lulus di era 90-an (dan menikah di era itu juga), saya mengamati terjadi perubahan tentang hal-hal apa yang generasi saya inginkan di masa depan. Dulu semua orang ingin mengejar kota besar karena semua ada disana. Namun kini kami yang tinggal di kota besar merasa ingin kembali ke kota kecil karena kota besar sudah tidak livable lagi.. Saya sendiri sih nggak tahu ya apakah istri mampu hidup di kota kecil, mengingat dia tampaknya sangat kekotaan banget. Saya sendiri sih nggak terlalu perlu mall, plaza kecil will do (hahaha). Tapi serius deh, di era jaman sekarang semuanya bisa dibeli secara online.

Komersialisasi Agama.

Dalam era reformasi yang membuat kita jadi merdeka untuk menentukan pilihan (kemudian terpolarisasi dengan sempurna), membuat banyak warga masyarakat kembali ke prinsip-prinsip syari dan membebaskan dari dari 32 tahun sekularisme di Indonesia. Sebagai seorang muslim, tentunya saya menyambut baik hal tersebut. Karena Islam mengatur banyak hal yang sangat baik dalam prikehidupan. Namun belakangan tentunya saya mendapatkan bahwa banyak sekali oknum yang  membawa hal tersebut terlalu jauh.

Dalam sebuah obrolan ringan makan siang, selepas tur pecinan di Glodok, kami membahas soal etnis in general. Lalu ada ucapan menarik dari seorang teman:

“Sekarang mulai banyak muncul perumahan eksklusif muslim yang mempertanyakan agama kita sebelum bisa membeli rumah. Selain muslim gak boleh beli”.

Salah satu rekan di kantor saya sebenarnya adalah salah satunya. Saya agak kaget sih pas rekan kantor saya cerita tentang komplek perumahan barunya tersebut. Tapi hal itu beneran terjadi di Jakarta. Walau sejatinya ya kalau mau fair, pembangunan kluster-kluster perumahan berdasarkan”etnis” itu sudah terjadi sejak lama (makanya ada pecinan, kampung arab, kampung betawi, dll) yang mana sebagian masih dilanjutkan hingga sekarang. Tapi saya tuh sudah mengira bahwa generasi muda akan lebih fleksibel dengan hal-hal tersebut.

Dalam beberapa kasus saya sangat setuju penggunaan label islami atau halal dalam: restoran/makanan atau produk perbankan, karena hal tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam agama. Namun saya kurang setuju kalau penggunaan label islam hanya terkesan untuk menangkap konsumen dari pasar masyarakat muslim yang baru saja “hijrah”. Contoh yang paling bikin nyengir-nyengir: kulkas halal, kerudung halal, atau teflon halal. Saya sendiri bukan ahli agama yang bisa judging terlalu dalam, tapi by logic sebenarnya cukup bisa dipahami ketidakpentingan akan hal tersebut. Label Islami atau Halal tuh seakan menjadi sebuah gimmick marketing yang intinya mengkapitalisasi agama Islam. Sangat menyedihkan.

Selepas menulis ini saya mendapatkan sebuah broadcast  di grup WA komplek yang menjustifikasi kegelian saya akan kapitalisasi agama. intinya bapak komplek ini mau jualan rendang lalu membawa embel-embel rendang ini dibuat oleh ummat islam bla-bla-bla.. Lalu memangnya selama ini rendang dibuat sama siapa ya? LOL

Berpendidikan (saja) ternyata tidaklah cukup.

Dalam sebuah kesempatan, saya ikut menemani istri yang diundang untuk melihat sebuah pembukaan pameran karya seni kontemporer di Jakarta. Yang hadir adalah gabungan antara penggiat seni, pecinta seni dan orang-orang A+ di Jakarta. Saya sebagai penggiat tanam cabe di pot merasa agak terasing dengan suasana ini, namun cukup menikmati karena menjadi kesempatan yang baik untuk melihat tindak tanduk sosialita di Jakarta.

Acara dimulai dengan social drink, jadi semua orang bercengkrama hangat dengan gelas anggur dan champagne-nya (mereun). Saya nggak tau juga sih, soalnya nggak minum (ha-ha). Tapi dengan gaya anggun semua menggoyangkan gelas tingginya sambil ngobrol atau sekedar tertawa manis. Pakaian menjadi sesuatu yang penting untuk menunjukan siapa kita disana. Dari sini kita bisa membedakan siapa penggiat seni/seniman, orang berpunya, dan orang-orang biasa pada umumnya kayak saya.

Ketika pidato dari pemilik/kurator/sponsor/dutabesar/perwakilan pemerintah (banyak ya) dimulai, 1/2 dari tetamu asyik dengan obrolannya sendiri, tidak mempedulikan usaha dan asa yang disampaikan oleh sang penggagas atau pendukung dari pameran tsb. Padahal pameran ini digagas secara brillian untuk membawa salah satu icon pop artist dunia ke sebuah tempat yang nggak terlalu diperhitungnkan dalam jejaring pameran seni dunia. Hingga ketika kurator utama komplein dan menghardik mereka dengan ucapan : Keep Silence Please, lalu menyemburkan sedikit udara dari mulutnya seraya berkata “Shsssssssst”. Dan hal ini berlaku lebih dari 3x (seinget saya). Saya malu banget karena banyak sekali undangan tamu negara berada disana juga.

Acara pidato-pidato-an selesai. Foto bersama dll. Dan gerbang pun dibuka untuk para tetamu masuk. Tentunya karena lumayan banyak undangannya, panitia mempersilahkan 50-70 orang masuk ke arena utama pameran per 10 menit. Harusnya memang begitu agar tidak overcrowded. Hal itu berhasil mereka lakukan, namun dasar ya kita orang Jakarta (regardless their social status) nggak berhasil antri. Yang terjadi adalah sebuah massive flood of humans  yang mencoba untuk masuk dan menyemut di gate masuk yang mirip sama gate KRL Jakarta (tapi bening). Kita yang mau antri pun jadi merasa terdzolimi dong dengan orang-orang yang tiba-tiba dengan manisnya menyeruak masuk dari samping. Jadinya aja nggak ada antrian yang jelas ketika awal. Tapi tentunya setelah 1/2 tetamu masuk, sisa dari tamu mau mengantri dengan lebih beradab dan alhamdulillah antrian rapi juga terjadi didalam area eksibisi.

Tentunya tidak lengkap tulisan ini tanpa komentar mengenai para tamu yang hobinya fotografi diri. Nggak ada yang salah sih, malahan bagus untuk promoting acara ini (karena positif), tapi mereka kadang-kadang membawanya ke level tersendiri hingga masuk kategori mengganggu. Contohnya ketika ada sebuah ruangan khusus dimana kita bisa bisa experiencing art dengan menjadi bagian dari penciptaan karya seni, these young 20s asyik banget foto ramai-ramai sampai mau jungkir balik. Lalu tidak pas tentunya kalau mereka nggak ketawa-ketawa seperti tiada hari esok yang ujung-ujungnya sangat mengganggu sekali. Mungkin tipe-tipe yang kalau kita tegor malahan akan negor balik.

KESIMPULANNYA.

Berdasarkan pengamatan saya, akhirnya saya bisa menyimpulkan dan mengkoreksi pandangan saya soal manusia. Selama ini saya berpikir bahwa berpendidikan itu cukup untuk menjadi obat dari kemunduran peradaban di Jakarta. Tidak semua orang berpendidikan itu beradab. Tidak ada barrier ekonomi atau sosial yang menjadi validator seseorang itu beradab. Kalau selama ini saya mengira bahwa hanya si miskin yang akan desak-desakan berebut sembako (sampai pingsan) tapi ternyata si kaya juga melakukan hal yang serupa dalam frame yang berbeda. Tapi ide awalnya sama saja. Berpendidikan saja ternyata tidak cukup membuat kita memahami soal menghargai, memahami, atau bertoleransi.