Buddha from Jatibarang

This is possibly one of the most interesting klenteng that I ever visit. Small and neglected. All they want to do is surviving the day. But when you go inside, all things are well kept and clean. The Buddha room was rather simple, but somehow very majestic.

The Chinese population in Jatibarang was quite low and the klenteng caretaker saying that, it was the new Chinese from Kalimantan that came and pray. Possibly the local Chinese has convert into Christianity.

“it was a quite hardtime during the Soeharto era”, he said.

It was when I asked the care taker’s opinion about the new order.

When in Bangkok

So, after India, I went to Bangkok for a small reunion and.. so-called recovery trip after India. Soooo glad to be in Thailand and possibly the best feeling ever after a very “challenging” trip in the sub-continent. I honestly aimed nothing but just to have some fun with my close loop, follow what they wanted to see meaning not much with historical building or whatsoever. So we went to several restaurants in town and doing some shopping. I really enjoy Bangkok so much, the city is modern but still hold its cultural charm.

20191208_170217

20191208_172725

20191208_161510

20191210_165242

20191208_164253

20191208_163029

20191209_182457

20191209_105310

20191210_155941-1

20191210_160501

20191210_165141

20191210_173659

Solo Traveling di India

Saya sebenarnya agak malas untuk menulis terlalu panjang lebar mengenai perjalanan ke India akhir November 2019 kemarin karena akan memakan banyak sekali halaman dan tidak semua orang menikmati tulisan yang panjang dan bertele-tele. Tapi okay, sebagai bagian dari memory project untuk masa depan maka saya akan mencoba membuat short summary dari perjalanan ke Jaipur, Jaisalmer, Amritsar, Agra dan New Delhi.

Kenapa India?

Banyak orang yang menanyakan kenapa pergi ke India? Sebenarnya saya ingin menjawab dengan berbagai sejarah dan filosofi dibelakangnya, tapi semua pertanyaan itu saya jawab dengan:

“Saya baca buku waktu kecil tentang India dan ingin sekali kesana”

Kebanyakan orang mengidentikan India selalu dengan Bollywood atau tarian-tarian dengan pohon. Realitanya adalah: tidak seratus persen benar. Sejatinya, seorang teman bernama Raj Dutta dari Assam (India), berkata itu (nari-nari di pohon) sudah sama sekali nggak relevan. Saya sendiri ke India selain memang impian masa kecil sebenarnya juga karena ingin menghabiskan cuti yang akan hangus. Istri dan anak tidak mau ikut sehingga saya memutuskan pergi sendiri. Dan lumayan senang juga sih pergi sendiri karena bisa lebih eksplorasi banyak hal.

Lalu India ini negara yang magis sih. Maksudnya secara histori mereka adalah salah satu pusat peradaban tertua di dunia, tempat lahirnya agama-agama besar, tempat dimana raja-raja dikalahkan sultan-sultan, lanjut dengan kolonialisme barat, hingga merdeka. Negara demokrasi kedua terbesar di dunia yang mempunyai populasi sangat besar banget dan tentunya punya segudang masalah. Segala keeksotisannya saya ingin lihat dan rasakan semua dengan mata kepala sendiri. Saya nggak butuh travel vlogers atau instagram influencer untuk menceritakan yang manis-manisnya aja dengan foto-foto cantik didepan istana atau kuil, boring. I need the real deal!

Why Solo Traveling?

Kenapa nggak? Saya memulai jalan sendiri di tahun 2006. You see back then, I used to hate my job. But they give me money. Karena pertama kali bekerja terdampar di negara orang maka saya eksplor saja sendiri dan ketagihan. Lalu terakhir saya traveling adalah tahun 2015, ke Andalusia. Senang banget karena disana bisa sepedahan, naik kereta api, coba makanan baru, mengunjungi situs sejarah dan tentunya ketemu banyak orang baru. Di India pun saya menemukan pengalaman serupa. Setidaknya saya ketemu 5 orang baru yang berasal dari banyak negara. Belum ditambah keluarga baru dari India yang membuka pintu mereka dengan sangat baik. Mengingat saya pergi untuk mencari inspirasi, maka sebanyak mungkin saya mencoba membuka pembicaraan dengan orang-orang baru. Selain itu, solo traveling kembali lagi mengasah “Survival Mode” saya dalam banyak kondisi seperti: ketika akan kena scam, ketika negosiasi, dan lain sebagainya.

Jaipur

Jaipur adalah kota pertama yang saya kunjungi di India. First look of India yang saya harapkan di Jaipur sebenarnya adalah sesuatu yang manis seperti di brosur wisata. Sayang kenyataannya agak berbeda. Ketika supir yang saya hired datang menjemput, saya langsung melihat fakta di lapangan yang bisa saya validasi dengan baik bahwa diluar wilayah wisata kota Jaipur agak mirip kawasan industrial yang agak semrawut. Okay, ditambah dengan scam perdana yang ditujukan kepada saya oleh pak supir yang tiba-tiba dengan reversed psychologynya mengatakan bahwa saya sudah booked trip besok keliling Jaipur dengan biaya 25,000 Rupee (5 Juta Rupiah). Nice try.

20191126_115008

Tempat wisata yang paling ok di Jaipur menurut saya ada tiga: Jantar Mantar, City Palace dan Amber Fort. Saya sebenarnya effortless dan ambitious-less tourist nih, jadi nyantai aja jalannya, tapi sayangnya kota ini membuat kita harus selalu sigap karena lengah sedikit bisa dihabisi kantong kita. Hari kedua setelah kedatangan saya ke Jantar Mantar dan City Palace. Cakep sih, saya nggak bisa berbohong. Jantar Mantar unik banget karena menjadi sejenis lab astronomi yang dibuat oleh Maharaja Jaipur untuk melihat waktu dengan tingkat ketepatan yang sudah dibuktikan NASA. City Palace sendiri adalah pengganti istana di Amber Fort yang terletak 11 km dari pusat kota. Menurut saya kedua tempat itu (City Palace dan Amber Fort) memang anggun banget sih, very detail, dan yang pasti pernah sangat megah banget pada jamannya. Keindahan ini tentunya harus kita nikmati sebelum rombongan turis dari Cina dan lokal tiba secara massal dengan selfie sticknya.

20191126_084102

Saya juga sempat jalan kaki untuk tahu suasana kota sambil lewat melihat Hawa Mahal. Sumpah rusuh banget jalanannya. Kayak jalanan dipenuhi oleh kendaraan yang ugal-ugalan dengan klaksonnya yang rusak semua sehingga bunyi terus. Belum lagi banyak banget yang manggil-manggil ajak kenalan berujung scam. Pada awalnya saya pikir dengan tampilan dan wajah yang coklat ini saya akan bebas dari berbagai gangguan. Ternyata masih. Yang paling unik dari India adalah kehadiran gerombolan sapi yang ada dimana-mana dan saya kira salah satu episode The Simpson was just a lie! but everything is true! Mengingat sapi adalah hewan suci masyarakat Hindu.

Yang sedih sebenarnya adalah anak jalanan yang banyak banget dan mirip dengan slumdog millionaire (tp hanya sampai di level menjadi anak jalanannya saja). Belum lagi warga miskin lainnya yang tidur disisi tembok bagian luar istana. Hal ini membuat kita seperti melihat sebuah negeri kaya yang jatuh miskin dan menyisakan hanya monumen-monumen raksasanya saja. Sepertinya memang kemiskinan di negara yang katanya merupakan salah satu ekonomi besar dunia masih belum sepenuhnya teratasi. Tampaknya populasi adalah salah satu masalah utama di India untuk memberikan kesejahteraan bagi semua pihak.

20191127_102434

Pada hari ketiga saya traveling dengan Daiki, dia adalah seorang traveler solo dari Jepang yang saya temukan di dorm tempat menginap. Berawal darisaya menyerah pada sebuah sore di hari kedua yang berujung pada pulang ke dorm lebih awal. Disana saya bertemu dengan Daiki yang juga kayaknya lagi lelah melihat kerumitan Jaipur. Kami di kamar dorm yang sama.

“Did I see you in City Palace?”

Pertanyaan itu berujung pada obrolan panjang lebar mengenai banyak hal seperti cita-cita dia jadi Buddhist monk. Saya juga membantu mengobati sakit perutnya dengan memberikan diapet yang katanya langsung menyembuhkan padahal sebelumnya dua hari dia harus bulak-balik ke toilet. Kami berdua pergi ke Amber Fort via jalan belakang karena mau mampir mengunjungi Step Wells. Agak kecewa dengan Step Wells di dekat Amber Fort karena kecil dan tidak jelas aksesnya. Tapi dari sini kami bisa jalan kaki menuju Amber Fort via road less traveled, menembus kampung-kampung kecil dan menemukan beberapa gerbang dan istana lama yang terbengkalai. Magis banget sih. Amber Fort sendiri memang must see place di Jaipur.

Jaisalmer

Selepas Jaipur saya lanjut pergi ke Jaisalmer, sebuah kota kecil di sekitar Gurun Thar yang katanya seluruh dinding kotanya berwarna kuning karena terbuat dari batupasir. Ini adalah kali pertama saya naik pesawat lokal India bernama Spice Jet. Bandara Jaipur ini bisa dibilang agak buruk management airportnya dan overload penumpangnya. Nah tipikal penumpang India biasanya mereka tuh bawa barang banyak banget, jadi kita harus hati-hati untuk tidak terlalu mepet kalau misalnya mau ada luggage drop di check-in desk. Pengalaman saya waktu itu ada seorang ibu yang udah excess baggage tapi nggak mau bayar. Lah kok bisa ya? Dia terus nego ke ground staff untuk membiarkan seluruh barang-barangnya masuk dengan gratis. Negonya itu sudah mirip melihat debat antara politisi kacangan versus the world, sampai kakinya naik ke travelator untuk barang. Epic banget sih karena sampai 20 menit saya harus menyaksikan perdebatan ini dan bikin antrian super panjang. Di waktu yang bersamaan muncul juga wanita random mencoba nego agar bisa nitip bagasinya ke penumpang lain termasuk saya. Lalu kan saya beralasan bahwa:

“Maaf mbak saya bahkan nggak ke kota tujuan mbak pergi”

yang mana alasan itu tidak membuat dia nggak nanya kedua kalinya ke saya 10 menit kemudian. Tentunya kalaupun saya pergi dengan tujuan yang sama dengan beliau, nggak akan mau juga ngasih nama saya untuk bagasi dia karena potensi ada isi drugs.

20191128_154830

Anyway Jaisalmer. Airportnya bisa dibilang kecil dan merupakan airport militer mirip Halim Perdana Kusuma. Udara disini agak dingin dengan sinar matahari yang cukup tajam. Penginapan saya pesesan melalui airbnb dan…. berada di antara pemukiman kumuh yang memang nggak terlalu jauh dari Fort Jaisalmer. Hostelnya not too bad sih, tapi sekitarnya sumpah kumuh banget dan kotor. Jalan keluar harus melalui berbagai anjing dan sapi (plus kotorannya). Dan saya dapat kamar di lantai 1. Pemilik penginapan adalah seorang pria yang menikah dengan orang Inggris, mungkin dari sana dia mendapatkan funding untuk membangun hostel ini yang reviewnya bagus banget sih di booking.com dan airbnb. Ya nasi sudah menjadi bubur-lah ya, mari lanjutkan hidup.

20191129_100737-1

Diluar lokasi hostel yang buruk, sebenarnya Jaisalmer adalah kota fave saya, terutama segala prikehidupan yang terjadi di dalam benteng pasir itu. Agak berbeda dengan bagian luar benteng, kehidupan di dalam benteng menurut saya cukup edgy dengan cafe-cafe dan gallery kecil yang sangat artistik. Benteng ini juga salah satu yang paling tua di India, dibangun pada tahun 1156 oleh Rawa Jaisal sebagai salah satu kota jalur sutra yang cukup sukses pada jamannya. Didalamnya selain tempat-tempat edgy tersebut juga ada istana dan kuil Jain. Saya nggak terlalu tertarik masuk kedalam istana, namun saya mengunjungi kuil Jain. Ini pertama kali banget mempelajari Jainisme. Menurut guide saya dalam perjalanan menuju Camel Point, Jainisme adalah agama yang aneh.

“Mereka vegetarian, gak makan dan minum selepas maghrib karena takut memakan hewan-hewan kecil yang masuk ke gelas/piring, dan kalau mau (penganutnya merasa ingin) mengakhiri hidup ya udah diem aja (gak makan dan minum) lalu mati nanti dimakan burung”.

Okay. Saya sendiri sempat masuk ke dua kuil Jain yang menurut saya indah banget sih ukirannya. Di dalam kuil tersebut ada penampakan nabi mereka yang mirip banget sama Budha tapi bukan karena gak pake baju dan matanya terbelalak. Penganut Jainisme percaya dengan reinkarnasi dan ini adalah salah satu alasan mereka jadi vegetarian.

20191129_103706

Kembali ke perjalanan menuju Camel Trip point. Ini adalah pertama kali keluar dari pusat kota dan melihat wilayah padang pasir di Gurun Thar India. Sepanjang jalan saya menemukan banyak pembangkit listrik tenaga angin yang cukup besar dan memberikan energi bersih untuk wilayah tersebut. Menyetir diantara kincir-kincir angin tersebut seperti melihat rig kayu pengeboran di California pada jaman dahulu. Guide saya bilang bahwa saya mirip orang Assam dan ini dijadikan alasan untuk saya mendapatkan diskon warga lokal ketika berada di beberapa lokasi wisata yang kami kunjungi sebelum masuk ke camel point. Dan mereka percaya-percaya aja sih.

20191129_170212

Setelah perjalanan agak lama dan beberapa stop lokasi wisata akhirnya tiba saatnya naik onta yang ternyata tidak semenyenangkan yang saya kira. Terutama kalau dapat onta yang agak ambisius ya. Selangkangan sakit banget dan onta ini tinggi sekali, saya nyaris jatuh beberapa kali. Pada perjalanan ini saya bersama Vischal, seorang mahasiswa dari Himachal (India). Perjalanan dengan onta ini memakan waktu sekitar yaa 1 jam sebelum sampai ke Sam Sand Dunes dimana segerombolan gypsy telah menunggu untuk mengajak menari bersama. Saya pikir bagian dari wisata ternyata mereka minta uang. Bagian atraksi utama ternyata di malam harinya setelah sunset yang cukup epic di padang pasir, dimana ada atraksi tarian Rajashtani yang agak mengerikan sih dengan penari yang mengambil jarum dengan kelopak mata.

Saya sempat mengalami mental breakdown di Jaisalmer karena merasa kelamaan disini dan sebenarnya karena hostel yang kurang nyaman. Sedikit penyesalan kadang muncul:

“Ohh seharusnya saya pergi ke Thailand sajaaa..”, hati kecil berbicara.

Oh ya satu lagi yang membuat saya makin nggak nyaman dengan hostel ini adalah pelayannya yang agak aneh karena setiap saya makan pasti pelayannya nungguin berdiri tepat didepan muka. Sambil menatap kosong. Untuk breaking the ice ya seperti biasa saya ajak untuk duduk dan ngobrol tapi dia nggak mau. Jadi mau makan santai agak sulit. Bahasa ternyata masih menjadi barrier di India. Dan camkan bahwa ternyata tidak semua orang India bisa Bahasa Inggris. Anyway, kembali ke perjalanan, ternyata ada bagian dari Jaisalmer di luar benteng yang nggak terlalu buruk banget. Terdapat beberapa rumah bekas pedagang kaya raya yang tersisa dan kini menjadi museum, dimana gaya arsitektur bangunannya diikuti oleh banyak rumah-rumah orang pada saat ini dalam ukuran lebih kecil. Saya mengunjungi dua haveli: Patwaon Ki Haveli dan Singh Haveli.

20191130_161211-1

Yang pertama sangat recommended karena terjaga dengan baik. Gang-gang disini juga lumayan picturesque sih dengan nuansa budaya Hindu yang cukup terjaga baik. Jadi pas mental breakdown itu saya kesini dan lumayan terhibur. Tapi pelipur lara terbaik adalah menyaksikan sunset dari Kuku Cafe yang terletak di dalam benteng. Selain memang lumayan cakep viewnya saya juga dapet teman ngobrol. Pemilik cafe ini kayak manusia paling slow sedunia dengan pandangan-pandangan anti kemapanan yang dianut oleh banyak solo traveler di dunia. Makanya yang mampir kesini kebanyakan solo traveler. Saya ketemu sama orang Bhutan yang kerja di microfinancing NGO dan seorang Jerman yang cita-citanya mau traveling jalur darat dari India ke Australia. Satu hal yang saya pahami, kalau kita berasal dari negara dunia pertama kita bisa dapat melakukan lebih banyak hal di hidup ini.

Amritsar.

Saya terbang lagi dari Jaisalmer ke Amritsar via Jaipur.

“Kamu harus coba makanan-makanan Amritsar, karena enak, khas Punjabi”

Itu pesan seorang ibu yang saya ajak ngobrol di pesawat. Wah pas banget nih karena akan ikut food tour disini.

Saya tiba jam 8 malam di airport dan disambut dengan udara malam yang buruk sekali kualitasnya. Selain dingin, saya juga bisa merasakan basuhan polusi udara di kulit. Parah sih. Saya tiba di airbnb sekitar jam 9.30 malam yang kemudian disambut oleh keluarga Charinjit (host airbnb) yang lagi asyik ngumpul. Ternyata ulangtahun pernikahan bapak-ibu pemilik rumah. Randomly saya mendapatkan pelukan selamat datang dari si bapak yang disambut dengan cengar cengir anggota keluarga lainnya. Dia mengajak saya untuk stay tapi saya bilang:

“Capek banget pak.. izin mandi dan tidur”

Lucunya sekitar 30 menit kemudian kamar saya diketok dan saya dikasi slice kue pernikahan mereka. Sweet banget.

20191202_125353-1

Besoknya saya memutuskan untuk jalan keluar, liat-liat Golden Temple dan sekitarnya. Oh ya, Amritsar adalah jantungnya agama Sikh dunia yang terletak di Punjab, jadi dominan masyarakatnya pada pake turban gitu. Kota ini lumayan bersih dibandingkan kota-kota sebelumnya dan nggak keliatan banyak sapi, mungkin karena pada proporsi Hindu nya berimbang dengan Sikh. Bagian-bagian yang dekat dengan “mekkah” nya orang Sikh ini lumayan bersih dan bersahabat untuk pejalan kaki. Saya sempat masuk ke satu temple Sikh, sebelum masuk ke Golden Temple yang bagus banget.

20191202_182920-1

Saya berkenalan dengan Amritpal, guide perjalanan sore ini. Dia mengajak keliling Golden Temple sampai masuk kedalam seluk beluk yang mungkin akan terlewatkan oleh wisatawan biasa. Dia bilang bahwa ada 5 hal yang harus dibawa/dipakai oleh penganut Sikh setiap hari: kirpan, jenggot, kolor kain, sisir, dan tentunya gelang besi. Dia juga mengajak saya untuk bersantap malam gratis di dapur yang buka 24/7 sehari dan menyediakan makanan untuk siapa saja yang datang ke Golden Temple. Saya sempat makan nih demi menghormati Amritpal yang ngajakin makan. Tentunya saya nggak suka ya karena nggak enak banget dan merasa agak kurang bersih aja. Tapi tempat ini kerasa banget sih nuansa religius nya bahkan untuk seseorang yang bukan menganut Sikh.

20191203_125009-1

Selepas tur Golden Temple saya melanjutkan perjalanan dengan Amritpal untuk Food Tour bersama Liam dari Australia. Dia bekerja di wikipedia. Amritpal mengajak kami ke tempat makan yang dia bilang dari masa kecilnya.

“I used to play around here and the uncle recognized me well”

Okay, tapi kayaknya agak scam karena mahal banget paket turnya dan saya pikir bakalan dapet semua makanan Punjabi yang enak itu, seperti yang dikatakan ibu-ibu di pesawat. Ternyata all vegetarian dong. Syampah. Entah kenapa Liam cukup menikmati, sedangkan saya mood udah turun karena merasa ketipu dikasi makanan murah dan bayar nyaris 700rb rupiah. Dia kasih lah kita gorengan pinggir jalan, teh, sedikit makanan agak banyak di bagian akhir ketika udah kenyang. Janji awalnya

“I will take you to 25 place to eat ”

I was like, but everything closed at 9 PM broh!

Disini juga pertama kali saya naik tuktuk yang super gila karena kerjaannya nabrak semuanya dari manusia, mobil sampai sapi. Well, belum sampai kena sih cuman agak horor. Amritpal bilang:

“Kamu punya travel insurance kan?”

Lalu tertawa.

Well, saya punya sih, tapi saya nggak punya sense of humour untuk situasi saat ini.

20191202_190746

Tapi yang saya amati, beberapa turis melihat semua kesemrawutan dijalanan, kemiskinan, dan hal-hal aneh di India adalah bagian dari atraksi wisata yang layak dinikmati. Liam ketawa-ketawa aja sih pas tuktuknya udah nyaris mau jungkir balik. Tur ini berjalan dengan aneh dan diakhiri dengan minum Chai Masala yang mungkin cuman seharga 20 rupee. Total biaya yang saya bayar nyaris 700 ribu rupiah untuk tur yang kemungkinan hanya bernilai setengahnya.

20191203_155452

But I did have a good experience pada hari ketiga di Amritsar, ketika naik bus hop-on-hop off ke Wagah Border seharga 290 rupee. Jadi sejak partisi India 1947 dan kemunculan Pakistan, kedua negara ini terus berseteru. Puncaknya adalah perang dan lomba nuklir. Tapi yang paling lucu adalah perbatasan di Wagah yang menjadi ajang provokasi antara tentaralppp kedua negara, padahal cuman turunin bendera di sore hari aja. Trip ke sana paling murah pakai bus hop-on-hop-off naik dekat Museum Partisi. Saran saya agar ambil kursi yang dibawah karena pas pulang dijamin masuk angin karena open air, apalagi musim dingin.

20191203_163432

Anyway, ini lucu sih, di bagian perbatasan India dan Pakistan kedua negara membangun amphitheater untuk penonton menyaksikan adu tentara yang kakinya bisa split vertikal sambil berdiri. Penonton India lebih musikal dan banyak sekali yel-yelnya. Ditambah tarian-tarian massal untuk mengganggu tentara Pakistan. Lalu tentunya karena banyak orang kita harus hati-hati kalau bawa anak kecil. Ada kasus hilang gitu yang akhirnya ditemukan oleh orangtuanya juga sih sambil nangis-nangis bombay (iya sedih banget deh kalo sampai hilang disini, kebayang nasibnya jadi anak jalanan). Sebenarnya acara penurunan benderanya sebentar banget, tapi pre-party-nya rame banget sampai saya jadi doyan lagu Pop-India.

Tiang bendera kedua negara tersebut gede banget dan bendera berkibar perlahan kena angin. Saya pulang duduk diatas bus open air sambil menikkati sore menjelang dengan langit kemerahan karena difraksi dari polusi yang pekat terhadap cahaya. Busuk tapi indah, ha ha. Perjalanan malam sumpah dingin banget dan saya sampai sakit badan besoknya.

Agra

Well, morning trip ke airport dengan UBER. Ini sumpah XLPass kembali berulah banget karena nhgak berfungsi dan saya terus menerus mendapatkan jawaban templated dari CS nya via twitter ketika komplain sebelum akhirnya CSnya berkata:

“Okay, kami buatkan laporan dulu, ditunggu ya 🙂 Thanks”

Rasanya pengen banting HP.

Tapi untung aja kan pakai internet airbnb yang lumayan kenceng sehingga pesan memesan UBER berjalan lancar. Saya terbang dari Amritsar ke New Delhi sebelum nanti naik kereta api ke Agra. Kali ini saya terbang dengan Indigo Air yang menurut saya bagus banget untuk sekelas budget flight. Interiornya rapih dan pramugarinya menurut saya keliatan elegan banget seragamnya.

Tiba di New Delhi saya stop dulu di KFC lokal, ya saya cari KFC, agak lelah dengan chapati dan sup-sup nya yang beragam itu. Sebisa mungkin saya menghindari makanan-makanan India. Sejujurnya dalam sanubari sudah ada perasaan ingin skip Agra karena sudah sangat capek. Tapi semua tiket sudah dibeli. Dengan langkah gontai saya naik metro dari Indira Gandhi International Airport menuju Connaught Place yang katanya tempat paling hits di India.

Ya mungkin dulu ya. Tapi sekarang kayaknya mirip-mirip Braga aja dalam kondisi yang lebih besar dan tidak terawat. Lalu lagi-lagi ini yang jualan bikin kesal dan mengingat stok kesabaran sudah habis jadi emosi sampai ke ubun-ubun akhirnya saya tolak dengan agak kasar. Termasuk sekelompok gadis yang menawarkan kupon makanan diskon. Didalam hati I was like:

“Dude I just want my KFC okay, please back off”.

Bertambah agak menyebalkan karena saya pilih menu KFC yang salah:

“Dude I just want my hot and crispy fried chicken okayy”. Cry.

20191204_130529

Tapi Metro Delhi bisa dikatakan bagus sih karena menjangkau banyak tempat dan cukup terawat. Saya berpergian kesana kemari pakai metro, termasuk ke Hazrat Nizzamudin Railway Station yang merupakan stasiun kereta api dimana kereta tujuan Agra berada. Saya tuh baru kali ini merasa bangga kereta api di Indonesia karena jujur saja naik gerbong-gerbon disini kayak naik mesin waktu dan kembali ke Indonesia tahun 1980an. Selain gerbongnya tua banget juga sempit. Saya pikir 2AC Sleeper Class itu udah fancy ya, ternyata masih mirip sama kelas ekonomi kita tapi bisa rebahan. Saya duduk bersamping-sampingan dengan turis wanita Perancis yang merasa nggak nyaman ditanya-tanya sama tukang nasi yang masuk gerbong perihal dari mana dan mau kemana?

“I am visiting my husband in Agra”

Okay, lie. Ha ha ha.

Saya tiba di Agra sekitar pukul 5 sore, setelah 3 jam perjalanan yang cukup tenang dan melihat rural side India. Keluar dari stasiun saya dikerubuti oleh supir taksi dan tuktuk. Saya memilih menggunakan tuktuk seharga 400 rupee yang dikendarai oleh supir seumuran saya dengan 3 anak. Dia seorang muslim dan tampaknya senang saya naik tuktuknya.

“Mas nya mau kemana ya?”

Saya jawab “Ke Oberoi Hotel aja ya…. saya nginep di hostel sebelahnya, didalam gang”

:))

20191205_061142

Tempat menginap di Agra ini agak ajaib sih karena saya tinggal disebuah kamar yang isinya dewa-dewi Hindu, tapi lokasinya prime karena deket banget sama Taj Mahal. Agak ngeri nginep disini karena all eyes on me semalam suntuk. Yang punya airbnb adalah seorang tur guide yang memiliki degree S3 jurusan Sejarah. Pengaruh masuk angin dari Amritsar mulai agak menggila disini pada malam hari. Saya kepikiran untuk gak ke Taj Mahal. Tapi terimakasih panadol yang setia menurunkan panas saya. Terimakasih. Sebelum tidur saya minta dibuatin makan, roti dan telur dadar, menu yang biasanya memang ada. Dan ternyata yang punya rumah vegetarian se vegetarian nya sehingga telur di rebus. Okay, mereka lagi-lagi memberikan saya chapati.

Paginya saya berjalan menembus dingin menuju Taj Mahal. No comment, best banget nggak nyesel kesini.

20191205_072630-1

20191205_071031

New Delhi

Akhirnya tiba di Delhi dan selangkah menuju pulang. XL Pass lagi nih yang nyaris membuat saya gagal turun di Hazrat Nizamuddin Station karena status posisi oleh google map keliatan masih satu stasiun dibelakangnya. Di India ini semua rusuh, terutama masuk ke public facility, pasti ada scan koper. Tapi untung banget nih Metro di New Delhi bantu banget untuk mencapai airbnb terakhir yang kamar mandinya enak banget dan ada private lift dari luar. Juga banyak makanan gitu. Thank you Pizza Hut.

20191206_072014

Besoknya saya ikut tur bersepeda. Ya ya ya, lagi-lagi harus bangun pagi dan naik UBER jam 6 ke old Delhi. Gila sih polusinya tebel banget, sampai airvisual monitor mengatakan Very Hazardous. Tapi apa daya ya sudah bayar. Saya berkenalan dengan seorang peserta dari Italia dan sebuah keluarga dari New Zealand yang katanya ditempat dia tinggal baru ketemu orang setelah beberapa km berjalan. Mereka membawa anak kecil usia 9 tahun. Tenzin adalah pemandu kita pagi ini, seorang anak pengungsi Tibet yang tinggal di India Selatan. Dia bukan warga India namun memiliki tanda pengenal khusus. Sejak Tibet diambil alih oleh China, banyak warga Tibet lari ke pengungsian di India. Saya pikir hanya Dharmasala, ternyata sampai India Selatan.

20191206_080914-1

Kita berjalan merayap ke jalan-jalan kecil old Delhi yang banyak dihuni oleh masyarakat Muslim dengan Masjid Jama nya yang megah. Dikejauhan terlihat smog yang tebal, namun diakui sebagai kabut oleh Tenzin. Saya yakin dia salah. Diperjalanan, anak perempuan kecil keluarga New Zealand mengalami masalah dengan sepedanya dan menangis. Tapi saya rasa dia stress sih dengan segala pemandangan yang ada. Saya sih Assalamualaikum kesana kemari karena dengan para brothers :).

20191206_090000

Kita diajak masuk ke bekas-bekas rumah saudagar muslim yang hancur, lalu ke jalan terbaik di era Sultan, Red Fort, melihat kegiatan volunteering dijalanan Delhi hingga akhirnya ke Spice Market yang bau rempahnya menyengat banget. Semuanya diakhiri dengan naik ke rooftop masjid dimana kita bisa melihat pemandangan Old Delhi dalam 360 derajat. Sejujurnya saya melihat sebuah fakta yang sangat menyedihkan dari India, karena sampai di ibukotanya pun kondisi manusia dan infrastrukturnya sangat menyedihkan. Ironis.

Di malam harinya saya mengunjungi Iraj, teman dorm sewaktu di RHUL di South Delhi, tempat paling hipster se New Delhi. Saya bilang ke Iraj:

“Pokoknya no more Chapati okay! Just food”

Dia mengajak saya kesebuah restoran ala-ala kayak di Kemang. Tezin mengatakan bahwa kita bisa melihat perbedaan antara warga delhi selatan dan the rest of Delhi disini. Biasanya mereka akan mix-mix gitu kalau ngomong atau pure english. Anyway, ditempat saya makan semuanya mahal tapi enak, all vegetarian but modern. Cafe hipster gitu. Kita ngomong panjang lebar mengenai berbagai hal yang saya lihat selama perjalanan.

“Kenapa banyak sekali Sapi? Apa tidak pernah di regulasi?”

Alasannya kembali adalah masalah keagamaan. Tapi yang menarik adalah ketika di India tidak boleh melakukan pemotongan sapi, pemerintah India adalah pengekspor sapi potong no 1 di dunia. Aneh. Iraj lalu mengajak saya ke mall terbesar di New Delhi dengan tuktuk. Dingin banget. Mall mereka sebenarnya tidak terlalu mewah, mungkin sekelas Grand Metropolitan Bekasi. Tapi tampaknya sudah paling maksimal disini. Saya nggak komen terlalu banyak. Kami berpisah karena Iraj harus kerja malam, biasa lah konsultan. Dia membantu untuk menawarkan tuktuk ke stasiun metro terdekat, 40 rupee. Dalam perjalanan pulang tentunya supir ini akan memberikan tawaran untuk langsung mengantar ke rumah yang saya tolak mentah-mentah.

Akhir Cerita

Honestly, India ini emang aneh ya, chaos tapi selalu dicari oleh banyak orang dari seluruh dunia. Saya rasa dalam kondisi apapun semua orang didunia akan tetap ke India, karena mereka punya karakter yang kuat. Sesuatu yang berbeda dari belahan dunia lainnya. Saya nggak yakin sih akan ke India lagi dalam waktu dekat, selepas pengalaman ini. Tapi siapa juga yang tahu ya!

Hal yang paling saya banggain dalam trip ini adalah kemampuan saya memanage barang bawaan yang hanya satu koper kecil dan nyuci hanya 1 x saja di Jaisalmer. Sisanya pakaian saya pakai beberapa kali. Untuk urusan pengeluaran saya agak boros demi kenyamanan :)). Tapi ya sudahlah.

New York

Beberapa waktu yang lalu, kami mengunjungi New York. Puti mendapatkan sejenis penghargaan atas video 1 menit nya yang bercerita tentang perdamaian di acara International Grammy Award 2018. Kami semua sangat bangga kepadanya. Jadi akhirnya dengan pesawat terpisah, kami berangkat ke New York yang dingin di bulan November. We did plenty of things: mulai dari ke acara award di hotel ala New York hingga melihat Dinosaurus. Banyak hal yang bisa dilihat dan dirasa disini. Walau bukan yang paling bersih atau ramah, tapi saya merasa cukup menikmat kota ini.

20181116_174403

20181119_152344

20181120_125440

20181117_123120

Belakangan ini kami sangat menikmati perjalanan yang pelan. Tidak terburu-buru untuk mengunjungi suatu tempat hanya untuk berpose dan menaruh di sosial media. Saya sendiri cukup lelah dengan hal-hal tersebut. Teman saya Raj bilang bahwa ketika kita mengambil terlalu banyak foto, sebenarnya kita kehilangan banyak memori dari tempat yang kita kunjungi. Ada benarnya karena sense of exploring kita hilang. Yang kita cari hanya objek fisik yang mencolok saja. Kita nggak akan sempat eksplorasi hal-hal sederhana seperti warna, suara, bau, sejarah, dan berbagai hal lainnya.

Mom, it has been 2 years.

Dear Mom,

Since you left us, Antariksa grow into a fine young man, he is 2 now. He is the one that cheered me up when I am a bit down. Antariksa always there everyday to welcome me back home, after that tiring hours in the office. He smile in front of the door, I hug. Sometimes he asked me to go for one lap of driving around the block. We chat, not sure whether he understand me or not. But he is a smart little boy.

Mom, I never understand how much you love me, but know I know after I become a parent. I always want the best for my kid, make him happy, cheer him up. I always worry when he got sick. There’s always be time when I was too tired and gone to bed first. But in the middle of the night I always awake to see my son and wife sleeping. I secretly kiss their cheeks. I feel peace.

Mom, It has been 2 years since you left us. I always hoping that you can stay with us few more years to see Antariksa. But we just never know right? Days were different now, but I hope you are happier now knowing that there are no such thing for you to worry about.