Living the Singaporean Life.

Dalam kunjungan kami kedua tahun ini ke Singapura untuk mengikuti konferensi ilmu kebumian, saya sekeluarga memutuskan untuk menyewa sebuah Airbnb yang agak jauh dari semua pusat kegiatan wisata. Tempat ini berlokasi di Whampoa. Lokasi ini agak asik sih, walau jauh dari Marina Bay tapi cukup 20 menit dihubungkan dengan bus commuting yang ternyata lebih murah daripada naik MRT. Kami juga tinggal dekat dengan pasar basah, hawcker center, supermarket, dan beberapa instalasi heritage yang sangat cantik.

14 Sept 2017 1809

14 Sept 2017 1922

14 Sept 2017 1811

14 Sept 2017 1731

14 Sept 2017 1751

14 Sept 2017 1743

14 Sept 2017 2052

14 Sept 2017 2856

Hidup tiap hari belanja bahan makanan, buang sampah, commuting ke central, dll di negara/kota lain ternyata sangat menyenangkan. Saya jadi ngedapetin “feel” menjadi bagian dari warga Singapura yang dulu saya selalu bilang sebagai warga yang menyedihkan karena seumur hidup tinggal di rumah susun, but to be honest it is not really that bad sih. Kami juga sempat membeli roti di salah satu toko roti tertua di Singapura yang masih secara tradisional memproduksi rotinya sendiri. Enak banget.

Bisa dikatakan kunjungan kedua kami di Singapura ini sangat berkesan karena kami berkesempatan untuk ngobrol banyak dengan warga lokal yang kami temui di jalan. Seperti orang india yang jualan teh tarik dan makanan india di kedainya sampai baba-baba yang kerjaannya godain Antariksa di dalam bus. Salah satu ibu tua sampai ngasih lihat foto cucunya karena dia bilang Antariksa mirip banget sama cucunya yang super aktif. Ternyata orang Singapura tidak se individualis yang selama ini saya pikirkan.

I guess in the future we gonna go with this kind of vacation. Setelah saya telaah lebih lanjut, ternyata traveling hanya untuk mendapatkan spot-spot wisata itu sangat melelahkan dan yang pasti sangat hectic. Saya rasa semua orang setuju bahwa alasan kita melakukan perjalanan adalah merasakan sesuatu yang berbeda dan elemen interaksi tentunya akan menciptakan rasa yang lebih besar dibandingkan visual saja.

Iklan

Peranakan Cina di Kota Cirebon

Seiring dengan kedatangan masyarakat Cina Daratan ke kepulauan Nusantara, mereka bukan hanya membawa dan hidup dengan budaya nenek moyangnya disini, tapi mereka meramu kembali budaya dalam sebuah adaptasi budaya. Cirebon, sebagai salah satu kota pelabuhan tua, merupakan salah satu melting pot dari budaya Peranakan di Nusantara. Saya bertemu dan berbicara dengan beberapa dari mereka ketika saya berjalan ke Pasar Kanoman di jantung Cirebon tua.

Salah satu dokumen tertua tentang Peranakan Cina dari Cirebon berasal dari Kastil Batavia di tahun 1681. Ketika itu Sultan Cirebon tengah meminta bantuan Belanda untuk mengamankan kesulatanan mereka dari serangan Mataram Islam. Tampaknya terjadi perjanjian antara kedua belah pihak dimana dari pihak kesulatanan diwakili oleh 7 orang perwakilan. Dalam laporannya dikatakan bahwa 5 dari 7 perwakilan memiliki perawakan orang Cina.

21 September 2017 761

Ini adalah rumah toko Ibu Ming Cun. Dia kemungkinan berusia 60-70 tahun, sangat kurus, tinggal bersama keluarganya. Rumah toko ini menjual alat sembahyang untuk warga Peranakan Cina yang biasa berdoa di klenteng lokal Cirebon. Pada awalnya tidak ada yang terlalu menarik dari rumah toko ini, maksudnya ya mereka menjual warna-warni alat sembahyang, namun hanya itu. Namun saya menemukan sebuah plat besi tua didepan rumah yang bersanding dengan kertas doa dari klenteng lokal. Yang menarik adalah dalam plat tua ini tertulis detail Pancasila dalam ejaan lama. Kemungkinan benda ini berasal sebelum tahun 1967, ketika pertama kali EYD diutarakan dan kemudian diimplementasikan secara nasional. Ibu Ming Cun bilang bahwa plat tua itu sudah ada disana sejak dia kecil. Dan memang sepertinya menua seperti sang pemilik. Saya berkesempatan untuk bertemu dengan orang tertua di rumah ini, namun sangat disayangkan tidak terlalu banyak yang bisa kami bicarakan. Padahal ingin sekali saya mengorek kenangan masa lampaunya.

21 September 2017 776

Dengan berjalan kaki, selain sehat, banyak hal-hal lain yang bisa temukan. Seperti toko jamu tua di Jalan Pandesan yang berumur lebih dari 200 tahun. Oke, tokonya nggak setua itu sih, tapi setidaknya Ny. Tan So sudah membuat jamu sejak 1815. Saya sempat menengok masuk setelah diizinkan oleh karyawan toko yang bilang sebenarnya tokonya belum buka sih. Bisnis jamu tampaknya sudah agak redup, sehingga kini generasi kesekian dari Ny. Tan So harus berkreasi dengan usaha katering. Saya menemukan bahwa kebanyakan dari kebanggan lokal kita seperti jamu atau batik sebenarnya semakin populer karena dipegang oleh warga Peranakan. Saya entah kenapa percaya bahwa peranan mereka lebih dari sekedar menjual namun juga kemungkinan nenek moyangnya juga membawa inti dari tradisi tersebut ke Nusantara.

Semakin dekat dengan Pasar Kanoman, saya menemukan kuil Cina tua yang bernama Vihara Pancaran Keselamatan atau Boen San Tong yang dibangun pada tahun 1894. Tidak terlampau tua. Berwarna merah. Saya membuka pintunya yang tertutup rapat namun tak dikunci. Saya menemui dua orang tua yang lagi santai di rumah kecil sebelah kuil utama. Disinilah saya bertemu Bu Kim Li si penjaga kuil. Dengan ramahnya dia membawa saya ke ruang-ruang utama kuil.

“Dewa utama disini adalah Dewa Bumi”, katanya.

Ruang utama merupakan milik si Dewa nomor 1 di kuil. Altar besar dengan dinding yang penuh dengan cerita menarik. Sangat disayangkan Ibu Kim Li pun tidak tahu apa cerita yang dituliskan disana. Seperti kebanyakan Pernakan Cina di Jawa, Ibu Kim Li tidak bisa berbahasa Mandarin atau Hokkian. Kemungkinan beliau adalah bagian generasi yang tercabut budayanya oleh rezim Orde Baru di tahun 1966. Ibu Kim Li sendiri adalah seorang yang sangat suka ngobrol. Selepas keliling kami saling bercerita panjang lebar tentang hal-hal sederhana.. ha ha.. tiba-tiba dia ngobrol soal asisten rumah tangganya yang mau jadi TKI lah atau bagaimana orang-orang mencoba untuk membeli patung-patung didalam kuil karena sudah ada “isi”nya. Kuil ini sangat terbuka untuk umum, walau pagi itu terlihat sangat sepi.

21 September 2017 791

21 September 2017 816

21 September 2017 910

Saya berjanji kepada  Ibu Kim Li bahwa saya akan datang lagi di lain hari. Saya juga janji bahwa saya akan informasikan kepada yang lain bahwa this place is open for tourist.

Kopyor 4848

I was visiting Cirebon (again) few months ago for another sharing session with some colleagues. I always like Cirebon because there’s always be hidden gems that I found during my short trips to this town.

My boss took me to this old local dessert cafe. This small shop used to be a pool for 4848 minibus from Cirebon to Bandung in the old days. Not sure since when did the owner also served kopyor for the costumer. Time tell the minibus to shut their business but the kopyor still remain.

20170719_161104

20170719_161548

20170719_164434

20170719_164553

That hot and steamy Cirebon changed a lot after one expensive glass of kelapa kopyor. LOL. The shop has a very very modest but impressive interior gimmick. I might say classic but quite picturesque. I am not sure why the owner hanged all that brand new calendars, but surely they all looked very instagramable. I also like how they put all of those personal family photos in the shop, it is really heartwarming. The shop also sell homemade rose syrup using 100% sugar to sweetened the taste. I bought one and kinda like it.

Sewaktu di Paris (2017).

So we are kinda visiting Paris last week for, again, working. He-he. Karena membawa bayi kecil, saya dan Puti tidak terlalu grasak-grusuk untuk eksplorasi Eropa. Kami memutuskan untuk sok-sok menjadi Parisien, tinggal di wilayah non-touristy (dan kebetulan 15 menit jalan ke lokasi convention), belanja di pasar lokal dan toko roti artisan, dan hal-hal lokal lainnnya. Tentunya karena punya banyak waktu di Paris, kami juga mengunjungi beberapa tempat menarik dan kurang ikonik yang pasti terlewat kalau kita mengunjungi Paris hanya selintas saja sebagai bagian dari Eurotrip.

19390763_10155458978870859_4236126199538490803_o

Seperti yang sudah diperkirakan bahwa Tour Eiffel, Musee de Louvre dan Palais de Verseilles sudah resmi akan penuh dengan turis. Yang menarik diperhatikan adalah rombongan turis China yang selalu dalam jumlah besar. Mereka kalau jalan atau ngumpul selalu seperti gumpalan besar yang tak terpisahkan. Dan sesekali kita bisa melihat sesama mereka berantem di lokasi wisata. :).

Paris 2017 1534

Saya sendiri menikmati Paris untuk hal-hal kecilnya. Salah satunya adalah mengunjungi La Grande Mosquée de Paris. Sebagai pecinta arsitektur Andalusia dan Afrika Utara, saya sudah beberapa kali mengunjungi minaret khas mereka di Sevilla, Marrakesch, dan Casablanca. I think they are stunningly adorable. Tak disangka saya bisa melihat minaret serupa di Paris. Masjid ini dibangun oleh Pemerintah Perancis pada 1926 sebagai ucapan terimakasih kepada para pejuang muslim ketika Perang Dunia ke I melawan Jerman. Yang paling saya suka dari masjid ini adalah tegel-tegel khas Mujader (mix islam dan kristen) yang tersebar diseluruh dinding masjid.

19388603_10155458979375859_2278184033339827176_o

Kami juga menikmati perjalanan dengan menggunakan Metro di Paris. Di kota ini, Metro atau subway sudah sebegitu rumitnya sehingga tidak perlu lagi deh memakai kendaraan pribadi karena sudah bisa menjangkau sebagian besar Greater Paris. Membawa si kecil tentunya menjadi pengalaman tersendiri di Paris, karena walaupun pedestriannya sangat lebar tapi Metro-nya sudah berumur sangat tua sehingga sebagian besar tidak baby-friendly. Tapi lucu sih di Metro nya banyak instalasi seni kayak mozaik-mozaik yang kami sempat foto. Masalah copet ternyata kita juga nyaris jadi korban. Jadi biasanya copet itu masih muda-muda, kemarin sih kayak gadis-gadis remaja tanggung dengan raut muka kayak gypsy gitu. Biasanya mereka bergerombolan lalu akan mengikuti kita dibelakang. Kegiatan pencopetan biasanya dilakukan untuk turis-turis yg riweuh kayak ibu2 yang lagi gendong bayi dengan tas yang gak kejaga. Untung saya ngeliat jadi bisa neriakin itu maling-maling cilik.

Paris 2017 3180

Kami juga sempat mengunjungi MAHJ Museum yang merupakan Museum seni dan sejarah Yahudi. Wkwwkwk.. Kita tertarik kesini setelah Musee du Pampidou tutup, sehingga yang terdekat adalah museum ini. Menarik sih melihat bagaimana kedekatan budaya Islam dan Yahudi disini. Disini kita juga bisa foto atau beli chandelier khas Yahudi tea hahaha.. sayang mahal padahal pengen beli juga. Untuk sejarah Middle East tuh bisa kita tengok di Louvre dan Institut Arab du Monde. Mereka punya koleksi mulai era-era BC di Middle East yang ciamik, entah nyolong atau beli pas koleksi sejarah belum menjadi sesuatu yang berharga. Nah untuk Institut Arab du Monde berada di dekat Universitas Pierre & Marie Curie, menyajikan koleksi sejarah dunia arab dari masa pra Islam hingga kini. Menurut saya kita jadi lebih banyak belajar bahwa dunia arab itu bukan selalu Islam, bahkan hingga kini. Dan menurut saya seharusnya itu menjadi bagian dari knowledge yang harus kita miliki.

Paris 2017 1510

Paris 2017 3083

Salah satu spot yang memang ingin saya kunjungi semenjak dari Indonesia adalah sebuah tempat bernama La Défénse yang punya kenangan tersendiri untuk saya. Jadi 11 tahun yang lalu, ketika masih langsing dan single, saya sempat mampir ke tempat ini untuk urusan kerjaan dengan SLB. It was very personal, karena kali pertama keluar Indonesia dan terbang jarak jauh. Lalu saya melihat bangunan besar berupa box raksasa yang tengahnya bolong (La Grande Arch). Saya foto disana. Kini saya melakukan hal yang serupa tapi dengan anak dan istri. Daerahnya pun enak karena besar pedestriannya dan lebih asyik memang kalau sudah sore. Banyak orang yang nongkrong hanya untuk menikmati sunset. La Grande Arch sendiri satu sumbu dengan Arch de Triumph yang dibangun Napoleon. Tempatnya sendiri nggak terlalu ramai dengan turis-turis internasional karena nggak setenar yang lainnya. He-he.

Paris 2017 2602

Selain itu semua, saya merasakan bahwa berjalan kaki sangatlah menyenangkan. Selain bangunannya khas, mereka juga punya karakter ke Paris-an yang terasa melalui budaya kosmopolitan yang muncul di raut percampuran ras warga kota. Kita juga bisa merasakan detak seni dan budaya setiap detik kita melangkah. Sesuatu yang sempat saya sangsikan bisa terjadi di Indonesia. Terutama ketika melihat beberapa kota kita sekarang dipermak sedemikian rupa sehingga menjadi kota telletubies yang berwarna warni demi foto2 instagram masyarakat. LOL.

Paris 2017 156

Saya sendiri sangat menikmati tempat yang kami sewa via airbnb, mengingat pengalaman bahwa kebanyakan hotel di Eropa kecil sekali. Tempat kami menginap agak di luar wilayah tourist sehingga nuansanya Parisien banget.  Kami masak, nyiram bunga, buang sampah, belanja sampai nyapa-nyapa tetangga setiap hari. He he he.. 🙂 C’est bon.

Selembar Batik dari Trusmi.

Belakangan ini saya cukup banyak membeli kain batik untuk dibuat kemeja yang entah dipakai di kantor, kondangan atau. Menurut saya menggunakan batik di kantor adalah simbol perlawanan terhadap kapitalis bermodal besar yang jualan kemeja kantor. Semangatnya hampir sama dengan janji saya dan istri untuk nggak beli oleh-oleh khas yang nggak khas dari artis Jakarta di berbagai daerah itu. heheehhe. Tapi, saya rasa batik adalah pakaian yang sangat kasual dan nyaman dipakai di kondisi udara yang sumuk dan panas di Jakarta.

Trusmi sudah cukup terkenal dikalangan para pecinta batik karena merupakan satu dari sekian sentra batik paling ternama di Indonesia. Ekspektasi saya lebih lah, kalau sudah di promosikan jor-joran maka kita akan berharap menemukan sebuah wilayah yang tertata rapih, bersih dll. Faktanya adalah kebalikannya (Great Job Jawa Barat!). Trusmi sangat semrawut dan seperti jalan-jalan lain pada umumnya di kota-kota ukuran sedang di Indonesia. Tapi ya mungkin selera kita baru sampai disini untuk urusan estetika. Beberapa toko besar mewarnai bagian depan wilayah Trusmi, memberikan akses parkir kepada pembeli bermobil. Masuk ke tokonya sendiri harus buka sendal/sepatu karena bisa buat kotor lantai toko. Saya setuju sih sama hal ini. Ruangannya ber pendingin ruangan dan display batiknya sangat menarik. Harga batik di toko yang saya kunjungi adalah dari Rp. 80,000 hingga jutaan, tergantung kerumitan desain, warna dan teknik yang digunakan untuk membatik. Toko-toko ini dijaga oleh mbak-mbak manis yang dengan ramah melayani saya yang doyannya acak-acakin tumpukan kain batik.

Mei 2017 2329Batik Mahal di Trusmi.

Batik yang diatas ini harganya Rp. 1,8 juta rupiah. Mahal ya, tapi memang dari segi desain, teknik dan warna sangat rumit banget. Sebagai orang yang biasa-biasa aja, maka saya membeli batik cap yang harganya masih murah. Tapi memang selera perbatikan saya lebih sederhana motifnya, bukan fans batik-batik rumit yang mungkin lebih cocok jadi sarung ibu-ibu ya.

Selepas belanja, saya memutuskan untuk mencari masjid buat shalat dzuhur dan sambil liat-liat bangunan di daerah Trusmi. Kebanyakan rumah-rumah disini bisa dikatakan cukup berumur dan ruko-ruko lama menunjukan kepemilikan dari saudagar Tionghoa. Sayangnya, seperti biasa, tidak terjaga kondisinya. Kita kayaknya masih dalam level menghargai bangunan dalam urusan fungsionalnya saja. Jadi kecantikan bangunan-bangunan lama ini terkesan cuman ampas masa lalu yang kalau ada uang siap digusur jadi gedung toko baru yang besar. Masuk ke dalam gang kecil ternyata kita bisa melihat pengrajin-pengrajin rumahan yang memasok batik tulis ke toko-toko di Trusmi. Saya nggak tahu jumlahnya berapa, tapi prediksi saya sedikit karena bisnis mereka rumahan bukan pabrikan. Kehidupan mereka sangat kelam, kontras dengan batik-batik cantik berwarna yang mereka produksi untuk toko-toko besar.

Mei 2017 2333Sudut di Kampung Batik Trusmi.

Jadi, seperti biasa, dengan skill SKSD yang saya miliki terjadilah percakapan dengan seorang pengrajin yang tengah asyik melilini kain 2 meter yang dia pegang. Kita lalu ngobrol soal proses pembatikan, lalu keluarga dia gimana, siapa aja yang kerja dirumah, dll, sampai ke hal-hal personal yang bisa saya tanyakan dalam kesempatan 10 menit. Lalu akhirnya dia menawarkan sebuah batik yang menurut saya klasik banget sih: berwarna cerah, motif burung merak dengan background motif kawung dan tumpal yang sangat stunning sekali. Proses pembuatan batik tersebut 1 bulan mulai dari penggambaran hingga akhirnya jadi kain yang siap jual. Ada fase dalam pembuatan yang mana dia harus kirim ke Pekalongan untuk pembuatan detail ornamen kayak titik-titik kecil yang jumlahnya ratusan. Sepertinya good idea juga karena pasti menghabiskan banyak waktu sekali.

Mei 2017 2360

Mei 2017 2350

Mei 2017 2364

Mei 2017 2347Pengrajin batik tulis rumahan yang saya temui.

Pengerjaan di workshop kecilnya sendiri melibatkan seluruh anggota keluarga, jadi bapak gambar, ibu melilin dan membatik, si anak bantu-bantu masak lilin pewarnanya. Termasuk kerjaan yang menurut saya cukup melelahkan, terutama di udara yang sangat panas. Workshop dan rumah tinggal menyatu jadi satu, jadi saya bisa melihat piring-gelas yang baru dicuci bersatu dengan material dasar batik atau batik setengah jadi. Yang menyesak adalah seluruh kain yang dia buat akan dikepul oleh pemasok untuk dipasarkan di toko-toko besar. Dengan melihat kerumitan batik tulis yang dia buat sepertinya bisa deh dengan harga yang mahal, tapi tentunya pengepul akan membeli dengan harga murah dari Rp. 200,000. Kenapa saya tahu lebih rendah dari Rp. 200,000 karena dengan harga itulah dia menawarkan batik tulis rumit khas pesisir tersebut dan pasti sudah memasukan faktor untung didalamnya. Hal ini membuat muncul sedikit perasaan bersalah ketika membeli lembaran kain batik di toko-toko besar. Saya memutuskan untuk membeli selembar kain 2 m yang saya peroleh dari ibu itu. Tadinya mau beli lebih dari satu, tapi sayang banget uang cash terbatas.

“Anak saya sudah kuliah loh dari usaha batik ini loh”

Adalah statement yang paling membanggakan seorang ibu bisa katakan kepada orang lain. Saya nggak menangkap itu sebagai riya karena saya turut senang juga. Seperti ketika tukang rujak didepan kantor yang saya tanya kok gak nongol seminggu. Dia bilang ngurusin anaknya yang sakit. Anaknya yang udah kuliah dari dia jualan rujak selama ini.

Melihat pengrajin tradisional batik di Trusmi sebenarnya menggambarkan ketidakberdayaan masyarakat miskin untuk maju atau kasarnya untuk jadi kaya. Kayaknya ada sesuatu yang harus kita lakukan untuk membantu mereka-mereka ini, kayak fair trade batik shop gitu kali ya? Ide yang bagus ga sih? Mungkin kalau kita bisa mengkoordinir usaha perbatikan yang lebih memberikan keuntungan kepada pengrajin daripada pengepul atau pengusaha batik besar (pemilik toko) kita bisa memberikan sedikit masa depan bagi keluarga pengrajin seperti yang saya temui di Trusmi.

Batik 2 meter yang saya beli dengan cerita perjuangan sebuah keluarga pengrajin kini menjadi salah satu koleksi paling “mahal” yang pernah saya dapatkan.

Masjid Bata Merah Panjunan, Cirebon

Jadi saya cukup beruntung bisa melakukan trip kecil ke Masjid Bata Merah Panjunan (1480) yang dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Jawa dengan arsitektur bergaya Hindu yang sangat kuat. Masjid ini dibangun oleh Pangeran Panjunan yang merupakan imigran dari Baghdad dan datang dengan rombongan besar dari Irak. Salah satu unsur yang paling menarik di masjid ini adalah berbagai keramik/tegel yang menempel dengan sempurna di dinding merahnya.

Mei 2017 2422

Mei 2017 2421

Mei 2017 2427

Mei 2017 2429

Mei 2017 2430

Mei 2017 2435

Hampir seluruh foto keramik yang saya ambil berasal dari masjid bagian luar yang bisa kita akses, karena untuk bagian dalam masjid tertutup rapat dan hanya dibuka pada hari-hari besar. Walaupun dibangun pada 1480, hampir keseluruhan keramik yang ditemukan disini berasal dari abad 17 – 19, ketika masa Ratu Panembahan  1 (1568-1649) & Ratu Panembahan 2 (1649-1666). Ornamen keramik ini sudah pernah diteliti mahasiswa arkeologi UGM (Bauty, 2014) berdasarkan teknik deskripsi analitik membagi dua asal keramik-keramik tersebut: Tiongkok (17-18 masehi) dan Belanda (18-19 masehi). Mayoritas dari keramik sendiri kalau kita lihat memang terlihat berasal dari Eropa dengan teknik cetak yang sangat presisi. Duh, kapan ya saya memulai sekolah arkeologi :))). Kebanyakan keramik dari Belanda memberikan gambaran bunga, pemandangan, dll. Salah satu tegel memberikan ilustrasi semacam suasana di sebuah ruang istana dengan pemain harpa yang siap bermusik. Aneh ya ada gini-gini didalam masjid. he-he. Untuk keramik dari Tiongkok banyak mengeluarkan berbagai bentuk hewan dan pagoda. Tapi jujur saja itu dari interpretasi saya, mungkin harus dipastikan lagi.

Masjid ini juga menjadi salah satu penanda yang sangat penting untuk urusan alkulturasi budaya lokal dengan asing yang berasal dari Arab, Tiongkok dan Belanda. Dan yang lebih penting lagi adalah masjid ini juga memberikan gambaran tentang kita semua yang tinggal di Indonesia, kita hanya sekumpulan imigran yang mencari penghidupan lebih baik di Nusantara.